Cinta. Iya cinta. Mereka bilang saat jantung berdegup, darah berdesir, rasa meluap-luap, wajah terus terbayang, senyum terus terpampang kau sedang jatuh cinta.

Lalu bagaimana , oleh orang yang sama, dan rasa yang masih terus berlanjut, keadaan berubah menjadi sedikit kelam. Mengundang tangis, lontar kata yang kadang membawa luka, atau rasa yang dari hari ke hari menghilangkan kantuk dan lapar. Apakah masih ia disebut cinta?

“Cinta, tak seharusnya menyimpan duka”

Tapi kalau boleh kubilang, cinta adalah satu kesatuan dari suka dan duka yang kau alami di satu rasa dan sosok yang sama. Kadang manusia terlalu sibuk untuk memikirkan kata yang tepat untuk mewakili rasa dan asanya saat ini. Kita samasama tau kita mengalamai rasa yang luar biasa, yang membuncah, tak ingin disebut sekedar suka, tak mau disebut sekedar sayang. Lalu kau ciptakan kata cinta sebagai wakil rasa yang kau punya.

Tapi kau tak terima, saat cinta berulah dan merusak asa yang kau buat. Padahal masih dengan rasa yang sama, kau tak mau sebut itu cinta. Terlalu sayang untuk pergi, terlalu marah untuk bertahan. Kau menerjemahkannya sesukamu. Tanpa peduli, bahwa bisa jadi kau masih membawa cinta yang sama, dalam wujud yang sedikit berulah. Kau masih membawa aku yang sama. Entah di sisi hati sebelah mana.

 

Matahari,

5 Mei 2017