Feminisme akhir-akhir ini terasa begitu ramai diotakku. Perihal kesetaraan dan kebebasan hak seorang wanita yang ternyata penuh dengan kontorversi. Bagaimana tidak? Kebebasan yang dituntut kadang keluar dari norma yang ada. Seperti mencoba menjebol dinding budaya yang ada, merubuhkan tatanan masayarakat disana. Tidak heran mengapa banyak orang yang merasa ganjil dengan hal ini. Mengaitkannya dengan zionisme dan freemasonry yang terkenal itu.

Tapi dibalik itu semua kita memang harus mengakui pendukung dari paham ini bukan hanya satu dua orang. Bukan juga satu dua golongan. Feminisme tumbuh subur di segala lapisan bumi yang menganut prinsip modernisme. Walau lidah tak pernah berucap “saya pro-feminisme” tapi perilaku yang ada sudah cukup mencerminkan siapa dia sesungguhnya. Bahkan belakangan beberapa hal ganjil perlu kita sadari bersama. Feminisme yang merupakan gerakan keperempuanan entah mengapa justru menanggalkan nilai feminin itu sendiri. Sebaliknya paham ini berusaha menyamakn dirinya dengan kaum maskulin.

Jika kita mau sedikit merenungi, manusia saat ini terlihat seperti mengalami peregeseran identitas. Feminin menjadi maskulin atau sebaliknya. Mungkin terlihat begitu ekstrim. Namun keadaan sekitar anda pasti setidaknya memperlihatkan sedikit pergesaran walau tidak seekstrim itu. Sebagai contoh di Jawa wanita mempunyai tugas utama memasak dan laki-laki melaksanakan kerja bakti lingkungan. Tapi semakin kesini kaum modern berusaha menggeser itu. Masak bisa jadi pekerjaan siapa saja. Kerja bakti cukup dengan menyuruh orang saja. Tentu itu bukan yang jadi masalah. Yang jadi masalah adalah ketika pegeseran identitas itu membuat manusia bukan lagi menjadi makhluk homososial.

Norma dan batasan yang ada tentu dibuat bukan untuk mengurung kita pada ketaqlidan tanpa dasar. Norma dan batasan dibuat agar kestabilan sosial yang ada tetap terjaga. Feminisme setidaknya telah mendorong kestabilan ini karena kebebasan yang mereka tuntut meretakkan dinding-dinding batasan yang dibuat. Mungkin ada baiknya kita berkaca kepada budaya yang jita miliki sekarang, kepribadian yang anda miliki sekarang. Jangan salahkan nurani masyarakat yang melenceng disana. Bisa jadi andalah cikal-bakal melencengnya nurani di sekitar anda.

Hoax_Yang_Kejam___Henry_Makow

(Inspired by : buku hoax yang kejam)