Setiap orang punya sesuatu yang ia yakini benar. Sulit saat harus menjabarkannya dengan logika, atau kata kata kalau memang tak punya ilmunya. Tapi Allah memberi kita bekal yang sangat berguna. Nurani. Bekal yang membuat orang awam sekalipun bisa menentukan mana perbuatan yang benar.

Memang “benar” tidak selalu dilakukan walau manusia mengetahuinya. Mengetahui kebenaran juga bukan berarti ia penganut kebenaran. Karena selain nurani, manusia juga memiliki naluri. Sifat yang dimiliki semua makhluk hidup. Melindungi diri untuk terus bertahan hidup.

Karena itulah kadang naluri dan nurani tidak selalu sejalan. Saat keduanya berbenturan, kebanyakan oranv cenderung membela nalurinya. Bagaimanapun, konsekuensinya lebih cepat terasa saat kau mengingkari naluri ketimbang nurani. Mungkin kamu akan selamat saat menutupi sebuah kebenaran, saat menunda perilaku yang benar. Lalu saat kau merasa bersalah akan hal yang kau perbuat, saat itulah nurani meronta. Mungkin bisa saja kau abaikan. Kau biarkan ia meronta sampai lelah , sampai jengah. Jadi jangan salahkan yang lain jika kau sulit tidur atau terasa hampa. Karena nurani adalah bagian jiwa yang membuat kamu menjadi manusia. Kepingan ruh yang membuat seonggok jasad menjadi lebih hidup dan manusiawi.

Kadang abaimu terhadap lingkunganmu adalah abaimu terhadap nuranimu. Abaimu tehadap nuranimu adalah abaimu terhadap dirimu sendiri.