Hawa pegunungan di pagi hari memang selalu beerhasil menusuk lapisan kulitku, membuatku menggigil menuntut hangat. Bau hangus kayu bakar sudah cukup menjadi petunjuk jejak hangat yang ku cari. Sambil berusaha mengerjaplan mata, aku menjulurkan tangan ku berusaha meraih api, mengatasi krisis suhu dalam tubuhku.

Sambil kudorong tumpukan kayu itu ke tungku untuk menjaganya tetap berkobar, ku masukkan juga bayangmu semalam yang menghantuiku. Harapku agar lekas kau pergi, agar lekas kau hilang. Tapi melihat kobaran api yang semakin meninggi dan mencuat dibalik pantat panci yang mulai menggosong itu membuatku kembali berfikir. Mungkin yang selama ini ku lakukan bukannya menghilangkan bayangmu. Justru itu menjadi bahan bakar yang kukobarkan, membuatku semakin jelas merasakan hadirmu dalam mimpi malamku, dalam lamun senduku. Menghangatkan rongga rongga yang ada di hatiku.

Screenshot001

Badanku sudah kelewat hangat saat ini. Jika aku terus disini kupikir betisku akan menjadi panas. Jika aku terus mendekat, mungkin aku tidak hanya akan menyogok kayu, tangankupun akan merogoh demi menjaga api tetap menyala. Jika aku tak tau batas mana yang menjagaku tetap aman, aku pasti tak segan membakar diriku demi menjaga bayang mu tetap ada.

Aku mundur selangkah. Badanku sudah tak lagi menggigil menuntut hangat. Krisis suhu sudah kulewati. Mataharipun sudah meninggi disisi timur sana. Kutarik kayu bakar itu dan kubiarkan ia memadam dengan sendirinya, meninggalkan bekas hitam dan abu berserakan.

Ku berjalan membuka jendela pawon di sudut ruangan. Membiarkan sinar matahari menyelinap mengisi ruangan, menghangatkan dinding – dinding tua yang seolah beku. Ku biarkan ia menerpa wajahku dan memeluk tubuhku dengan hangatnya. Ya, aku siap menjalani hari baru sekarang.

 

Matahari, 15.08.2017