Bukannya aku tak mau, hanya saja aku malu.

Seperti daun kering yang pasrah dihembus angin, aku pasrah pada rasa yang membuatku terombang ambing.

Kau, maukah sejenak berhenti, dan menjawab asa yang hanya aku yang punya?

Hanya sekedar lengkungan bibir kecil itu, atau sudut mata yang terangkat dan berkerut, atau barisan gigi putih yang tampak dibalik lengkungan bibirmu, atau rambut ikal yang jatuh menyembunyikan binar mata indahmu, atau segala keindahan yang muncul saat kau tersenyum.

Mau kah kau berikan sedikit padaku yang sepertinya tak sanggup terus menerus menahan rindu?