Tetiba sekelibat ingatan itu datang. Ia yang berjalan disampingku tanpa suara, hanya mengiringi langkahku yang limbung dan lelah. Juga gigi gigi kecil yang tampak saat senyumnya pagi itu merekah.

Bagaimana bisa sebuah momen sunyi ini menggemparkan penduduk dalam otakku yang yang diam saja walau gempa sekalipun. Mereka mulai memperdebatkan hal hal yang bahkan tidak perlu. Mereka saling menuding dan menyalahkan benteng pertahanan bagian mana yang jebol. Lucu sekali memang. Mungkin mereka kira senyum itu adalah air bah yang bisa menenggelamkan desa mereka. Atau memang iya?

Di sudut lain, ada juga yang menanyakan asal mulanya. Yang ini lebih lucu lagi. Mereka sudah berkeliling ke berbagai laci laci memori yang ada di otakku, tapi masih belum ketemu juga. Mereka hanya berdebat dan mengumpulkan semua kemungkinan. Belum juga satu kepastian yang mereka temukan. Sudah lebih dari seminggu, tapi belum jelas juga apa yang kutunggu.

Angin mulai berhembus, mereka mendesakku untuk bertanya pada angin yang meniupkan memori itu ke otakku, “kaukah juga yang meniupkan rasa itu di dadaku?”
Apakah kau secara acak meniupkan segala rasa pada orang-orang yg kau lewati? Aku penasaran, apa yang kau selipkan di benaknya pagi ini?

Menurut angin, aku harus bertanya pada waktu akan jawaban dr segala prasangka itu. Lalu, Bisakah kau bilang kepada waktu agar tak berjalan seperti kakek tua? Aku mulai kesulitan menunggu. Kalau saja warga yang riuh ini lebih mudah diatur.

Matahari, 030219