Seorang pernah berkata untuk melepas bahagiaku. Tanpa sengaja, ia mendorongku untuk melihat dunia dari prespektif yang lain. Bukan perspektifnya tentu. Dia membuatku harus membuka sebelah mataku yang lama terpejam, karena ia menutup mata lainnya. Menutup mata yang selama itu hanya melihatnya. Aku sangat berterimakasih karenanya aku memiliki kedua mataku terbuka dan melihat dunia dengan baik sekarang. Tapi saat itu rasanya sulit mencari cahaya dari sebelah mata yang sudah lama terpejam.

Kau berkata untuk melepas bahagiaku, dengan penuh kesadaran bahwa kaulah sumbernya. Aku saat itu bagai orang haus yang tidak menyadari mata airnya sudah kering. Ah, mata air. Sepertinya bukan kebetulan bahwa istilah mata air berkebalikan dengan air mata. Sejak mata airku kering, aku bersyukur mata ku masih bisa mengobati kehausanku dengan beberapa tetes air. Tetesan air ini mungkin berasal dari sisa sisa mata air yang sudah ku minum dulu, yang setiap tegukannya berati kebahagiaan untukku. Tapi rasanya air dari mata ini lebih ajaib. Hanya dengan berapa tetes saja, dadaku tak lagi sesak oleh rindu. Lalu kukeluarkan saja semua sisa mata air yang ada. Mungkin saat itu aku terlalu banyak meneguk sampai terasa mau meledak saat mengeluarkannya. Nafasku tersengal, kelopak mataku membengkak. Tapi rasanya air ini tidak berhenti mengalir sampe purnama kedua usai.

Lepas bahagiamu, katamu. Apakah kau mengatakannya untuk mengejar bahagiamu? Semenjak itu bahagia lebih mudah dipahami sebagai hal yang semu. Kau tidak akan pernah berhenti mengejar dan melepaskan. Pernahkah kau bertanya tentang definisi bahagiamu? Bukankah kau akan selalu melepasnya saat kau menyadari kau sudah mengambil terlalu banyak untuk dirimu sendiri?

Salam matahari,

240519