Halo Sahabat!

Lama tidak bersua. Berita dan kabar sudah lalu lalang berganti, mungkin akan kubagi beberapa nanti. Yang pertama ingin kubagikan adalah rasa terimakasih atas semua dukungan yang diberikan serta doa yang tak henti untuk kesehatan kita semua ditengah pandemi ini.

Bicara soal pandemi Aku tidak akan mengeluhkan bagaimana situasi pandemi ini merubah sistem sosial dan lainnya. Karena aku sudah tiap hari mengeluhkan itu, dan mungkin beberapa dari kalian juga merasakan hal yang sama. Walau sudah beberapa bulan berlalu sejak PSBB pertama kali digalakkan bukan berarti semua orang sudah berhasil beradaptasi dengan kondisi new normal saat ini.

Tanggal 17 November 2020 kemarin aku sempat membaca media digital, katanya sudah setahun sejak kasus pertama covid-19 di Wuhan, China. Sejak itu juga ia sudah menyapa penduduk negeri dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Kita mungkin masih gagap beradaptasi, tapi nampaknya virus ini begitu supel dan nyaman beradaptasi di bumi kita. Jujur saja, aku tak terlalu mengikuti perkembangan angka terjangkit covid. Namun nyatanya, Ia saja sudah berhasil jauh-jauh melewati laut dan gunung sampai kemari di kota kecil tempatku tinggal.

Entitas tak kasat mata ini bisa begitu beprengaruh ke banyak hal. Kesehatan, pendidikan, ekonomi, perhubungan, dan masih banyak lagi. Namun aku tidak akan berbicara seluas itu. Aku hanya ingin berbagi rasa tentang bagaiamana wujud sekecil itu berpengaruh dalam hidupku, bagaimana ia membuat yang ada menjadi tiada.

5 Oktober lalu aku pulang dari rumah sakit menaiki mobil ambulan dengan selembar kertas yang mencantumkan nama Bapak, dengan keterangan meninggal dunia disertai kata infeksius tercetak tebal di barisan kalimatnya. Benar, Bapak meninggal dunia karena si pendatang baru ini, covid 19. Sekali lagi, Aku tidak akan berbicara soal angka atau bagaimana penyakit ini sampai datang ke Bapak. Karena sejujurnya sampai sekarangpun itu masih jadi pertanyaan yang belum bisa terjawab. Namun efek yang timbul ternyata tidak berhenti dengan meninggalnya Bapak.

Seperti orang kehilangan pada umumnya, muncul juga rasa sesal, sedih, trauma dan lainnya. Jika kubahas soal sesal, itu seperti rentetan kata yang tersusun melingkar, karena walau sudah di runtutpun akan kembali lagi ke sesal yang sebelumnya. Hanya berawal dari batuk, kami yang juga masih asing dengan si covid tidak bisa memberikan penanganan lebih dini. Tidak sesak kata Bapak, tapi sampai rumah sakit dan sudah di berikan oksigenpun, saturasi oksigen tidak kunjung naik dari angka 70-an justru semakin menurun di angka 60-an sampai akhirnya harus menggunakan ventilator sebagai alat bantu nafas. Saat masih di rumah, dengan demam yang naik turun dan batuk yang semakin memburuk, Bapak masih takut untuk diperiksa ke dokter.

Semakin kesini, ini bukan jadi hal baru lagi ditelingaku saat orang takut untuk di test ataupun diperiksa. Salah satunya karena kata-kata yang mengikuti kata test itu sendiri : Isolasi. Tidak sedikit orang yang menjadi salah tafsir dengan makna isolasi, yang akhirnya memberikan kesan “dikucilkan”. Mereka harus berpisah dari keluarga dan harus berhenti dari pekerjaannya dalam kurun waktu tertentu, yang itu sendiri juga untuk kebaikan keluarga dan lingkungannya. Ku ulangi lagi, untuk kebaikan keluarga dan lingkungannya. Namun isolasi penuh dengan konotasi negatif, sehingga definisinya menjadi berbelok. Untuk melindungi ekonomi dan status sosial keluarga di masyarakat maka sebisa mungkin tidak terindikasi positif, yang bisa jadi berarti menghindari pemeriksaan atau bersikap skeptis dengan virus ini. Karena kenyataannya, orang yang pulang dari isolasi, dan sudah ditest swab dengan hasil negatifpun masih “diisolasi” juga dilingkungannya.

Hal-hal Ini dan itu setidaknya juga menjadi bumerang yang selalu kembali saat melihat hal-hal yang mengingatkan akan bapak. Gejala yang muncul, rasa takut, rasa khawatir dan hal hal lain yang mengingatkan pada penyesalanku. Saat bumerang itu datang, rasanya ingin sekali aku melakukan hal-hal yang tidak sempat dilakukan. Sesederhana untuk melakukan pemeriksaan sejak dini sehingga penanganannyapun bisa lebih optimal. Beberapa kerabatku juga sudah berhasil berpisah dan sembuh dari covid-19, yang artinya sembuh menjadi hal yang sangat mungkin. Bukan Mustahil.

Kadang bumerang itu justru membangun defensif lain, yang berujung ke khawatir dan takut pada hal-hal yang sebelumnya kuanggap biasa. Sebagian orang bisa jadi menganggap sikap ini sebagai “parno”, yah dengan melakukan hal-hal yang membuatku merasa aman, atau membangun prasangka dan gagasan untuk menjadi tetap “sehat”. Aku lihat beberapa orang yang memiliki ketakutan yang sama juga berakhir sepertiku, menolak untuk merasa sakit. Seolah terobsesi dengan definisi sehat dan mulai gagu mengenali keadaan tubuhnya sendiri.

Memang harus diakui virus ini cukup meresahkan. Beruntunglah orang-orang dengan imun yang kuat, atau berunntunglah orang-orang yang beruntung. Mereka yang tetap bugar walau tidak harus pasang pelindung di mulut, di tangan, atau juga di minuman suplemen dan olahraga pagi. Karena ada yang sudah siap dengan berbagai amunisipun tetap jatuh ke kasur dorong. Hanya dalam hitungan hari berbagai selang untuk makan, infus, nafas, sampai untuk buang air sudah bersilangan disekitarnya. Namun yang tidak kalah meresahkan baik untuk mereka yang sehat ataupun tidak adalah persepsi yang muncul di masyarakat. Bahkan sampai pada satu titik dimana penyakit ini terasa seperti aib karena seolah minta untuk ditutupi.

Petugas yang berjaga di rumah duka, protokol kesehatan saat pemakaman, dan prosesi lainnya yang disaksikan oleh masyarakat sepertinya membuat beberapa orang menyadari seriusnya peristiwa ini. Beberapa yang merasa tidak aman mungkin akan bersikap menolak. Beberapa lainnya lainnya justru sebaliknya, bersikap tidak terima dan menyangkal. Terlepas dari semua itu aku sangat bersyukur pada sikap besar hati untuk menerima dan menyongkong keluarga yang berduka, cukup dengan kata dan doa yang tulus mengajak untuk berbagi rasa.

Aku rasa itu respon wajar yang muncul dan bisa jadi berbeda pada setiap orang. Tapi akan menjadi tidak wajar jika berlarut-larut. Sehingga pernting untukku menulis ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri. Jika akhirnya berdampak pada pembaca maka itu karena otak dan hati kalian bekerja untuk memproses tulisan ini. Kesimpulannya bisa jadi iya dan tidak, tapi aku memahai bahwa Manusia begitu beragam dengan pikirannya masing-masing. Aku tak bisa memaksa orang lain untuk memiliki pandangan yang sama denganku. Akupun tidak pernah ingin melakukan hal itu. Aku paham betul bahwa diminta melakukan hal yang tidak kau inginkan itu sangat menjengkelkan. Aku harap aku tidak melakukannnya walau itu adalah wujud dari peduliku. Bagaiamanapun, rasa peduliku tak punya hak untuk menyinggung hatimu.

Rela dan Ikhlas menjadi salah satu elemen yang harus ada di rangkaian peristiwa ini. Terbuka dengan diri sendiri dan terbuka dengan orang lain atas kondisi fisik dan batinmu. Menerima diri sendiri dan ulur tangan orang lain. Memahami bahwa ketidak tahuan adalah tanda untuk kita mencari dan belajar, bukan menghakimi dan kalut. Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan.

Matahari, 25 November 2020