Ah, senangnya pagi ini cuaca cerah. Terik matahari menembus sela-sela jendela masuk keruang tengah. Hangat. Di musim penghujan, terlebih di kota penghujan, cuaca seperti ini menjadi sebuah kerinduan. Aku bisa duduk di atas sofa coklat yang sudah dipenuhi bulu kucingku dengan tenang, tanpa memikirkan jemuran yang tak kunjung kering dan cucian yang semakin menumpuk.

Sepekan yang lalu keponakanku baru lahir. Rumahku tak lagi sebatas tumpukan bata berlapis semen. Hangatnya matahari pagi ini sepert ingin ikut meramaikan kehangatan rumahku yang mulai ramai akan hadirnya si kecil. Aku masih duduk atas sofa coklat tadi, yang kini sudah mulai berbau minyak bayi. Aku mulai berkomunikasi dengan sofa ini, ku bilang bahwa aku ingin menitipkan beberapa kenangan disini. Tentang semua kehangatan ini. Barangkali esok, saat mendung tak kunjung pergi, dan dingin makin lekat menemani, aku bisa meminjam sedikit kehangatan dari kenangan yang kutitipkan hari ini.

Sofa tidak keberatan. Ia bilang ” Manusia dan benda memang begitu”. Manusia tidak sanggup menyimpan semua kenangan yang Ia lalui selama puluhan tahun hidupnya. Maka “benda” dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi bank kenangan bagi para manusia. Aku juga tidak tau entah kenapa, mungkin mereka suka melihat manusia bernostalgia, atau entah apa. Ia bilang, suatu saat jika aku datang lagi untuk mengambil kenanganku, Ia akan melekatkannya dalam tekstur yang terasa di kulit telapak tanganku, dalam busa mengempis yang menyangga pantatku. Katanya dalam sekejap segala gambar sampai emosi bahkan juga hangat akan menyelimuti relung-relung memori otakku.

Menurutnya manusia sering kali keliru. Momen yang katanya ingin Ia titipkan nyatanya justru ia tinggalkan. Terbengkalai begitu saja tak pernah dijamah. Jika begitupun benda juga tidak begitu saja menyingkirkan kenangan yang menggelandang itu. Ia tetap menyimpannya lekat-lekat dalam dirinya. Membiarkan kenangan yang ditinggalkan itu tumbuh dan semakin lekat pada kain, warna, baut, busa, bahkan sampai partikel-partikel terkecil dalam dirinya. untuk itu Ia juga mewanti-wanti untuk tidak sembarang meninggalkan kenangan. Bahaya katanya.

Perbincanganku pagi itu dengan sofa coklat rumahku terpaksa berakhir. Aku harus beranjak dari sudut dudukannya karena Ibuku memanggil. Kali ini Ibu mengutusku untuk mengambil kerupuk yang sudah ia beli dari temannya 2 hari lalu. demi kerupuk itu aku harus berpisah dengan kehangatan sofaku. Kuambil jilbab hitam dan kunci motorku sambil memikirkan perckapan yang masih menggantung tadi.

Aku melaju dengan kecepatan 40 km/jam agar aku masih sempat untuk merenung dan berbincang dengan motor bapakku. Aku mengambil kesempatan untuk bertanya tentang apa yang terjadi pada kenangan yang tertinggal. Masih berusaha melanjutkan percakapan tadi yang cukup asik. Sayangnya motor bapak belum hidup begitu lama sehingga ia masih belum punya banyak pengalaman tentang itu. Baginya, “kenangan yang dititpkan pada kami para bendalah yang membuat kami hidup”. Yah, wajar saja kalau begitu, karena kenangan pertama baginya adalah saat ia sampai dirumah kami 3 bulan lalu. Akhirnya kami malah bicara soal jumlah pedagang bakso yang menjamur di kota dingin ini.

Tak lama, sampailah aku di gedung berlantai 4 yang biasanya sangat ramai. Mungkin karena hari libur dan sedang pandemi makanya tidak banyak orang bersliweran disekitarnya. kuparkirkan motorku di luar karena semua gerbangnya ditutup, dan hanya gerbang timur menuju IGD saja yang terbuka. Selagi berpamitan dengan motorku aku merasa ada yang janggal. Mungkinkah uangnya lupa kubawa? Atau aku lupa pakai celana?Entahlah.

Setelah kupastikan semua lengkap aku beranjak masuk ke gedung itu sambil mengingat-ingat apa yang janggal. Namun semakin di ingat justru semakin janggal. Sesampainya aku di pintu besi di sisi timur gedung, aku tersadar, bahwa bukan uang apalagi celana yang tertinggal. Melainkan kenanganku yang sepertinya memang kutinggalkan disini. Baru saja aku melihat pintu alumunium yang dijaga satpam itu seluruh memori yang melekat pada seisi gedung itu seperti menghampiriku. Bahkan mereka yang ada di lantai 4 pun ikut bergegas turun berusaha menyapaku. Tunggu dulu, rasanya dibandingkan disapa aku merasa lebih seperti disergap.

Aku seolah sedang berjalan kembali di tangga landai melingkar itu, dengan tangan kanan bertumpu pada pegangan alumunium yang terasa sangat dingin. Sedangkan di sela-sela jari tangan kiriku menggantung kantung plastik kuning lengkap dengan bau disinfektannya. Aku mengingat pikiran yang sedang kalut walau aku masih belum mengingat apa yang kupikirkan. Napasku tersengal karena harus berjalan ke lantai 4 dan sangat pengap karena harus beradu dengan masker yang melapisinya.

Aku tidak tahu apakah aku masih bisa mengatasinya jika semua ingatan tersebut membawaku ke lantai 4 gedung itu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika mataku juga sudah dibawah pengaruh hipnotis benda benda disekitarku. Membuatnya semakin nyata dihadapanku. Kekalutan di tangga saja sudah menggenangi sela-sela mataku. Hanya dalam sepersekian detik saja semua hal itu berproses. Untung saja datang seorang ibu-ibu yang membawa plastik berisi kerupuk tergopoh-gopoh menghapiriku. Ibu itu datang masih dengan pakaian jaganya, mengalihkan semua memori lain yang samar-samar sudah mulai berputar di otakku.

Selesai kami bertransaksi, Aku bergegas kembali kerumah. Jalan yang penuh dengan pedangan bakso ini tak lagi kuhiraukan. Pikiranku masih berusaha berdamai dengan memori tadi. Aku tidak pernah bermaksud meninggalkannya, namun aku juga tidak menitipkannya tidak benar. Mereka lekat begitu saja, dan mengakar terlalu kuat. Yang jadi masalah kenangan itu tidak pernah datang sendiri. Kedatangannya membuat otak menarik tali-tali memori yang menghubungkannya ke memori lain. Ia juga sering kali menarik tali-tali pengandaian yang terhubung pada peristiwa yang terjadi saat ini. Banyak sekali yang ia tarik sehingga aku merasa seperti di sergap oleh berbagai macam hal.

Memang benar ternyata bahwa kenangan akan hidup jika Ia yang diwakilinya tiada. Ia hidup bukan hanya sebagai ingatan saja. Ia menggunakan segala informasi yang melekat padanya dalam bentuk gambar, suara, rasa, bau, dan segala indera. Ia juga hidup pada benda yang menjadikannya berwujud nyata. Ia hanya akan berwujud ingatan jika mereka yang diwakilinya ada di depan mata.

Kutumpahkan semua ini pada motor bapak, lewat genangan yang sudah mengalir disudut mata. “sudah tak apa, begitulah kenangan” ujarnya berusaha menenangkan. Kadang kenangan memang datang dalam wujud yang tak kau duga, kadang mereka datang lebih dari yang kau kira. yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengannya, karena ternyata melupakan dan meninggalkannya justru bukan menjadi jawaban.

“Ah, dasar kerupuk”. Kami berduapun terkekeh. Dan begitulah Aku juga tanpa sengaja melekatkan memori pada kerupuk-kerupuk itu.

Terimakasih sudah menyimpan memoriku.

Salam Hangat,
Matahari.