Joker : Kisah Tragedi Komedi

Mengusung film Joker sudah pasti tidak akan jauh dari sosok badut tidak waras yang menjadi simbol serta ikon pemberontakan dan kejahatan kelas bawah di Gotham City. Walau sudah muncul berkali-kali di dan banyak versi, film ini hadir dengan tema brilian dengan menyatukan dua hal yang terkesan bertolak belakang, tragedi dan komedi.

Final Trailer Joker (2019)

Tokoh yang sudah muncul selama 79 tahun akhirnya kembali sebagai film tunggal yang mengisahkan Joker saja. Seperti Maleficent, film Joker kali ini membalikkan sudut pandang cerita yang sudah lama beredar di kepala kita dengan menghadirkan karakter anatagonis sebagai protagonis. Selain membalikkan prespektif, cara ini ternyata sukses juga untuk mengambil simpati penontonnya terlebih setelah diceritakan dengan baik.

Sejak awal kemunculannya di tahun 1940, Joker memang sudah dikenal simbol perlawanan dan pengrusakan tatanan moral dan sosial dari Kota Gotham. Namun ceritanya sendiri memiliki banyak versi. Kali ini Todd Philips (sutradara) berkesempatan membangun asal usul karakter legendaris ini dengan versi baru yang terasa lebih dekat dan lebih nyata dengan kehidupan kita.

Hanya dari opening, penonton sudah bisa terhubung dengan emosi dan pengembangan karakter Arthur fleck (Joaquin Phoenix) yang nantinya akan bertransformasi menjadi Joker. Sebuah tawa dan senyum yang dipaksakan, lengkap air mata yang menetes merusak dempul badutnya berhasil menggambarkan kepiluan dan beban yang Ia hadapi selama ini. Menghibur orang saat Ia sendiri mungkin yang lebih butuh dihibur.

Metamorfosis seorang Arthur fleck menjadi Joker juga tidak semata-mata muncul setelah satu peristiwa traumatis. Proses tersebut dihantarkan sangat runtut dan bertahap dari berbagai kompilasi kejadian buruk yang pernah Ia alami. Kekerasan yang sekilas kita lihat di trailer ternyata suatu hal yang ia dapati selama hidupnya dan berpengaruh langsung dengan kepribadiannya. Dimulai dari traumatis masa kecil, sampai ketidak adilan yang ia alami secara berulang sebagai orang yang mengidap penyakit mental.

Salah satu materi stand up yang Ia buat di jurnalnya sudah pasti akan merujuk pada kemalangannya. tentang kesulitan tidurnya, krisis ekonomi keluarga kecilnya, dan kelainan yang ia miliki. dengan penuh kesadaran Ia manyadari bahwa orang tidak bisa mengerti tentang dirinya karena dia “lain”. Menyuruhnya untuk bersikap baik saat orang lain justru berlaku sebaliknya pada Arthur.

Tensinya semakin memuncak saat Ia sudah tidak mendapat bantuan dari pemerintah untuk mengatasi penyakit mentalnya sehingga pengobatannyapun berhenti. Alih-alih mencari pengobatannya Ia justru mencari cara sendiri untuk mengobati kegelisahannya. Pelampiasan dan perlawanan terhadap perlakuan yang ia dapat mengantarkan Arthur menjadi sosok Joker yang saat ini kita kenal.

Aksi Joaquin phoenix dalam memainkan perannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan setelah menonton film, adegan dan gestur ikonic yang Ia tampilkan ternyata berhasil melekat di sela-sela memori otak saya. Tentu Jika bicara joker, tertawa adalah salah satu ciri khasnya. Menariknya selain terdapat 2 cara tertawa yang dia sajikan disini, kita juga dikejutkan dengan alasan Arthur tertawa. Kelainan. Memang kita sudah menduga bahwa Ia akan gila, tapi cerdas sekali rasanya mengaitkan kedua ciri khasnya, yakni gila dan tawa, untuk mengembangkan karater yang solid.

Jika bicara gesture tentu tidak cukup hanya membicarakan tawa. Cara ia berjalan, duduk, dan yang paling mencolok adalah gestur menarinya. Dengan tubuhnya yang kurus dan bungkuk, Ia menggambarkan kelegaan, kebahagian, dan kebebasannya dengan menari. Kontras memang jika mengingat tulangnya yang menonjol itu ikut memeriahkan pesta tunggalnya.

Sama halnya dengan Indonesia yang suka menampilkan hal-hal unik dan aneh menjadi viral, Gotham juga menghadirkan kenyataan yang sama. Kelainan Arthur karena tertawa tanpa sebab ternyata berujung jadi objek roasting komika tersohor, yang tragisnya adalah idolanya sendiri, Murray Franklin (Robert de Niro). Mungkin masyarakat manapun termasuk di Gotham memang sudah candu untuk menjadikan kelainan sebagai objek tawa, objek viral, objek motivasi dan objek-objek lain. Maksudnya, Apakah pernah terfikir bahwa mereka juga subjek?

Beberapa tragedi kesialan Arthur justru dijadikan sebagai ladang kesempatan orang lain dalam mencari keuntungan. Hal yang Ia anggap sebagai tragedi hidupnya ternyata menjadi komedi untuk sebagian orang. Bahkan di akhir cerita juga ia menyimpulkan bahwa ketragisan hidupnya adalah sebuah komedi.

Ternyata komedi dan tragedi hanyalah masalah sudut pandang saja. Dari kejadian yang sama dapat menimbulkan dua prespektif yang bertolak belakang. daya tarik lain film ini adalah membenturkan kedua sisi tersebut sehingga efek yang dihasilkan juga tercampur dan padu. Disatu sisi Aksi Joker akan menggelitik jiwa-jiwa warrior Anda untuk berkomentar, membela dan menimpali, sedangkan di sisi lain Anda akan juga merasakan penolakan hati nurani akan sesuatu yang tidak benar.

Kejadian adalah kejadian. Tragedi, komedi, romansa, drama atau apapun, adalah bagaimana subjek menceritakan dan memahami kejadian itu sendiri.

-Cim

Leave a Comment