Madam Bovary (2015) : Kilas Balik Wanita dan Glamor

Madame Bovary adalah sebuah film yang menyajikan kesrakahan dan ketidaksetiaan seorang wanita yang dalam kisah ini disebut sebagai Madame Emma Bovary (Mia Wasikowska). Seorang wanita yang terjebak dalam hedonitas. Cerita tentang Madame Bovary ini sepertinya bukan hal baru bagi para penggermar sastra dan film. Cerita ini sudah tersebar di barat sana sebagai penggambaran yang tepat mengenai seorang wanita yang tenggelam dalam impiannya tentang kemewahan.

008b0980f1bd2039f388ccd4175f63fa.png
Pernikahan dengan dr. Charles Bovary

Center point pada film ini adalah sang tokoh utama. Wanita cantik ini melakukan pernikahan hasil dari perjodohan dengan seorang dokter berdedikasi, Charles Bovary (Henry Lloyd-Hughes). Ditengah pengarungan bahtera rumah tangga ia dihadapkan dengan beberpa cobaan yang menerpa hubungan sepasang suami istri ini. Diawali dengan hadirnya teman Charles, seorang pria tampan muda Leon Dupuis (Ezra Miller) yang menaruh hati pada Sang Madam Bovary. Mempertahankan idealismenya, ia memutuskan untuk tetap setia dengan suaminya, begitupun saat hadir pria kedua, Marquis, pria kaya raya yang sedang melakukan kunjungan ke desanya.

madam-bovary-1200-1200-675-675-crop-000000
Madame Bovary dan Leon Dupuis

Merasa jenuh dengan kehidupannya, terjebak dengan rutinitasnya di kota kecil itu Iapun mengalihkan perhatiannya untuk berbelanja dan menjaga penampilannya agar terlihat elegan. Semakin erat belenggu kebosanan menjeratnya, Iapun akhirnya mendatangi Marquis (Logan Marshall-Green)  untuk mendapatkan kepuasan yang selama ini tidak ia dapatkan dari suaminya yang sibuk bekerja. Leon akhirnya menjadi pelarian saat hubungannya dengan sang Marquis kandas. Walaupun pada akhirnya tidak akan ada yang berakhir baik jika diawali dengan pengkhianatan.

374234.jpg
Madame Bovary dan The Marquis

Dengan segala keindahan latar belakang dan keelokan pemainnya sangat disayangkan bahwa kenyataannya cerita menarik ini kurang bisa tersampaikan, beberapa scene masih terasa menggantung dan perlu dimintai penjelasan baik secara detail dialog maupun secara visual. Chemistry yang terbangun antar pemain juga kurang bisa dirasakan. Mungkin karena cerita cinta yang tersaji disini memang bertepuk sebelah tangan, dan hanya hubungan yang mengharapkan sesuatau dibaliknya. Sehingga emosi yang terikat disana bukanlah emosi cinta yang mendalam. Jika memang pesan ini yang ingin disampaikan, maka pesan ini sangat berhasil tersampaikan. Terlebih jika konflik cinta dan kehidupan ini dibangun dengan dialog yang lebih emosional dari pemainnya.

Film bergenre drama ini merupakan adaptasi novel Gustave Flaubert dengan judul yang sama. Novel ini dikategorikan sebagai novel realist dan erotis. Entah harus bersyukur atau tidak jika film yang disajikan tidak memberikan gambaran liar penonton mengenai erotisme yang diangkat di novel. Ada beberapa adegan yang menjadi sensor tentu jika sampai masuk bioskop terlebih TV Indonesia. Tapi bagaimanapun makanan dengan bahan-bahan terbaikpun akan hambar jika bumbunya tidak dihadirkan secara tepat. Begitupun film, dengan bahan adaptasi yang  menarik, aktor dan aktris yang elok, dan sutradara yang mumpuni tentu akan sangat hambar jika bumbu yang menjadi ciri khasnya tidak dihadirkan secara tepat.

Sebagai film yang diaptasi dari novel, Madame Bovary memberika dialog yang menyenangkan untuk disimak. Diksi-diksi puitis cukup mendominasi film, termasuk gagasan-gagasan yang diungkapkan oleh para tokoh menarik untuk diikuti. Terlepas apakah sutradara terlena dengan obsesi untuk membuat film adaptasi novel yang sempurna dengan memunculkan kata-kata andalan novelis, cara ini cukup baik karena membuat film ini lebih indah dengan diksinya.

bovary.jpg

Pada bagian akhir film, sutradara menghadirkan kembali adegan pembuka, yang membantu penonton untul fokus dengan arahan cerita. Setelah terlena dengan cerita pada tengah film, penonton akan diingatkan kembali bahwa di awal film sutradara sudah memberikan petunjuk bagaimana film ini akan berakhir, atau sebelum berakhir. Jika anda sudah pernah menyaksikan “The Machinist” pasti anda pahamapa yang saya maksudkan disini.

Tokoh Madame Bovary dan kehidupannya sangat baik untuk dijadikan bahan renungan mengenai kehidupan sosial kita saat ini. mungkin saat ini wanita sudah banyak yang lebih independen. Namun kedekatan subjek dengan hedonisme, baik ia adalah laki-laki ataupun perempuan, kaya ataupun miskin, tetap saja dapat membuatnya tergelincir dengan berbagai masalah untuk memuaskan keinginannya.

13-barthes-madame-bovary.w1200.h630

Film ini juga mengingatkan kita bahwa tidak semua cinta yang kita lihat yang kita terima merupakan cinta yang tulus dan apa adanya. Ada baiknya bersiap untuk kemungkinan terburuk kalau ia hanyalah cinta yang hadir sesaat jika memang tak sanggup untuk mencegah kehadirannya. Kesetiaan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijaga ditengah kuatnya arus cobaan. Maka cobalah untuk menguatkan diri saat membangun sebuah komitmen.

Melihat temanya rasanya film ini sangat cocok untuk ditonton untuk kalian yang sudah berpasangan, pecinta sastra dan drama, atau kalian yang punya gebetan anak sastra. Buka pikiran dan pelajari pesan-pesan yang disampaikan di film ini agar nanti kalian punya bahan obrolan saat kencan 🙂

Oke, demikian tulisan ini dibuat. Terimakasih and keep on watching !

-Cim

Leave a Comment